DIBALIK MAKAR 2 DESEMBER

Belakangan muncul kata-kata Makar yang sangat viral di Indonesia. Bahkan kata Makar sendiri menjadi trending topik di media sosial seperti facebook maupun twiter. Lalu apa Arti dari Makar sendiri?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), makar punya banyak arti yaitu: 1 akal busuk; tipu muslihat; 2 perbuatan (usaha) dengan maksud hendak menyerang (membunuh) orang, dan sebagainya; 3 perbuatan (usaha) menjatuhkan pemerintah yang sah.

Jika diterjemahkan lebih mendalam, makar sudah diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana sebagai kejatahan terhadap keamanan suatu  negara, terutama di pasal 104, 107 dan 108, dengan diancam hukuman mati. Pasal-pasal ini mengatur pidana kejahatan yang terjadi terhadap presiden dan wakilnya, serta  ancaman pidana terhadap para penggerak makar itu sendiri.

Setelah kita mengetahui apa itu arti makar, kini kita mencoba berfikir, ada apa Dibalik Makar 2 Desember ? Presiden Jokowi pun sudah merespon dengan memberikan intruksi kepada Polri dan juga TNI untuk mewaspadai adanya upaya Makar dibalik aksi demo 2 Desember.

Pernyataan Presiden Jokowi ini menimbulkan banyak tanya. Siapa yang dimaksud sebagai aktor makar dalam aksi demo 2 Desember ini?  Mengutip dari kicauan akun twitter @AndiArief_AA, Selasa (22/11/2016) mengungkapkan bahwa pelung terbesar yang menjadi aktor makar adalah Wakil Presiden Jusuf Kalla.

“Padahal JK tidak kuasai parlemen. Kenapa Pak JK diduga dimaksud Jokowi Makar? Karena hanya Pak JK yang sangat berpeluang secara konstitusional seperti Habibie era Soeharto,” cuitnya.

Dibalik Makar 2 Desember
Kapolri Jenderal Tito Karnavian didampingi Irjen Boy Rafli Amar memberikan keterangan pers
Jika kita belajar dari pengalaman yang dulu pernah ada, Andi juga berpendapat, justru kepentingan atas wacana makar, tak lain Megawati Soekarnoputri dan PDI Perjuangan yang bisa  menjadi motor penggulingan pemerintahan Abdurrahman Wahid atau yang akrab disebut Gus Dur.

Andi juga mengingatkan, kalau rakyat sudah melakukan protes secara  luas dan  konsisten maka sudah sudah bis adipastikan hukumnya mendorong perpecahan di elit. (pojoksatu)