KETIKA KAKI SANTRI CIAMIS BERDARAH, HANYA DEMI IKUT AKSI 212, INI KISAH HARUNYA

loading...
Kisah haru ini berasal dari perjalanan anak mudah yang ikut dalam aksi 212. Dalam aksi 212 tersebut, ribuan orang, baik tua maupun muda, laki-laki maupun perempuan semuanya melakukan jalan kaki dari Ciamis Menuju Jakarta.

Langkah demi langkah, saat melewati ciamis, para santri disambut dengan penuh cinta. Rasa bangga selalu tercurah dalam wajah anak-anak muda yang berjalan ratusan meter demi Kalam SuciNya. Nmaun rasa haru yang berpadu air matapun juga tak bisa terelakkan.

Salah satu cerita haru itu adalah saat seorang dosen Universitas Padjadjaran (Unpad) melihat kaki dari salah satu santri yang berdarah.

Seperti inilah kisahnya yang dituturkan sendiri oleh Maimon Herawati seperti yang kami kutip dari facebook miliknya:

Saat Hati Berdetak karena Hal yang Sama

Usai mengajar kelas pagi, saya turun ke Jatos. Dengan Isna, kami memilih sandal gunung dan sepatu nyaman pakai. Seluruh sandal dan sepatu ukuran 39-42 kami beli. Teteh penjaga toko menelpon pemilik toko, minta harga sangat murah dibanding harga yang tertulis di sandal gunung itu.
Gembolan besar itu dengan cukup sulit dibawa menggunakan motor ke arah Dangdeur.
Di sana berbaris masyarakat. Murid TK sampai SMK. Remaja sampai nenek kakek. Di depan mereka berbagai hal: baju, makanan, sepatu dsb.
Pekikan takbir terdengar sesekali. Juga yel yel. "Islam bersatu, tidak bisa dikalahkan!'
Kepala-kepala itu melongok, menunggu-nunggu kedatangan remaja santri Ciamis.
"Mereka hebat. Mereka luar biasa." Demikian komen-komen yang terdengar.
Saya menggabungkan diri dengan teman yang lain.
Hampir sejam, satu persatu mujahid remaja itu mendekat. Sebagian bertopi lebar. Wajah mereka penuh senyum. Sebagian mereka, tangannya sudah penuh dengan barang-barang.
Masyarakat harus dipaksa mundur karena semua berebut ke tengah jalan, membawakan berbagai hal.
"Dikumpulkan saja dalam truk, Ibu-Ibu," pinta koordinator. "Nanti akan dibagikan."
Ada banyak yang menyeka airmata.
Sekejab saja sandal-sandal gunung dan sepatu itu habis.
Di depan saya masih lewat remaja-remaja santri.
Wartawan Antara yang berdiri tak jauh dari saya menjelaskan jumlah santri yang dia saksikan berkisar 1500 orang.
Ada yang bersandal jepit. Kakinya nampak bekas darah mengering.
"Nomor kakimu berapa, Nak?"
Dia mendongak. "43."
Saya tersenyum. "Maaf ya, Bu Imun belum membeli nomor itu tadi. Bu Imun akan segera beli dan kirimkan ya. Insya Allah."
Dengan Isna, kami kembali ke Jatinangor, mencari toko sepatu yang lain. Lagi seluruh sandal gunung dan sepatu nyaman ukuran 42-44 stok toko dihabiskan. Plus berlusin-lusin kaos kaki.
Kembali ke Cipacing.
Santri-santri sudah berkumpul di RM Sehati. Saya mendapat info dari Faris ada Gubernur Jabar di dalam. Banyak bus berjejer di luar rumah makan.
Saya menyerahkan gembolan pada Faris.
Saya sendiri tak lama di sana karena harus menjadi pembicara pada seminar nasional di kampus.

KETIKA KAKI SANTRI CIAMIS BERDARAH, HANYA DEMI IKUT AKSI 212, INI KISAH HARUNYA


Sempat bertelponan dengan Kang Teddy Setiadi. Beliau juga di lapangan.
Sepanjang jalan tadi, banyak ditemui wajah yang sering bersama dalam aktivitas kepalestinaan dan lainnya.
Ah, saat hati itu berdetak karena hal yang sama....tidak janjian pun Allah pertemukan.
Semoga demikian juga hendaknya nanti pertemuan di surga. Amiin.

WAJIB BACA
loading...