SUBHANALLAH, SISWI SMA DI BANYUWANGI JADI POPULER DI FB, TULISANNYA BIKIN MERINDING

Masih SMA, berparas cantik, brilian, itulah yang ada di dalam sosok Afi. Siswi yang mempunyai nama lengkap Afi Nihaya Faradisa mendadak populer karena tulisannya di media sosial facebook.

Sampai postingan ini dimuat, siswi yang bersekolah di SMA Negeri 1 Gambiran Banyuwangi ini telah dibagikan oleh 26.260 kali, disukai 35 ribu orang dan dikomentari sebanyak 4391. Selain itu, emotion wow juga banyak diberikan. Hal ini menunjukkan banyak netizen merasa terkejut dengan tulisan yang diposting oleh alfi.

Tulisan Afi sangat inspiratif dan banyak membuat orang terpana. Dia melakukan percobaannya sendiri hidup tanpa gadget. Dia melakukan percoban tersebut selama sepuluh hari.

Afi menulis dengan sangat cerdas, lugas dan juga menawan. Dia mengajak untuk evaluasi fenomena gadget dan media sosial yang  dijadikan ajak sebagai perdebatan dan bahkan permusuhan. Seharusnya teknologi sosial media mampu digunakan untuk ajang silaturahmi.

Inilah Tulisan Afi Nihaya Faradisa yang kami kutip dari laman akun facebooknya:

Aku pernah mematikan total hapeku selama 10 hari. 
Selama itu, aku tidak berhubungan dengan dunia luar sama sekali.
Hanya dari situ kau bisa mengamati apa yang gadget dan koneksi internet telah renggut selama ini.
Katakanlah aku terjebak dalam sudut pandang yang menggelikan.
Katakanlah aku salah menyikapi kemajuan, tapi hal-hal ini yang telah kupelajari dalam 10 hari. Sudahkah kau mencoba sendiri sebelum menjustifikasi?
Melalui layar 4 inchi ini, aku memang melihat dunia tanpa batas yurisdiksi.
Namun, kata orang bijak, "You are what you eat".
Belakangan aku tahu bahwa hal itu tidak hanya berlaku untuk makanan perut, tapi juga "makanan pikiran".
Apa yang telah kita masukkan dalam pikiran, jiwa, dan hati kita selama ini menentukan seperti apa diri kita.
Lalu pernahkah bertanya, yang aku telan selama ini lebih banyak racun atau gizinya? Pantas kalau diri kita masih gini-gini saja.
Ternyata ini sebabnya.
Perhatikan, kondisi "sumber makanan pikiran" kita semakin tercemari.
Aku lelah menjelaskan pada satu persatu orang tentang negatifnya menyebarkan hoax dan kebohongan.
Kita juga tidak pernah kehabisan alasan untuk saling membenci. Apa-apa dijadikan 'amunisi'.
Sama-sama manusia, kalau beda negara rusuh. Sama-sama Indonesia, kalau beda agama rusuh.
Sama agamanya, beda pandangan juga rusuh. Terus gimana nih maunya?
Padahal, kalau bukan Tuhan, lalu siapa lagi yang menciptakan SEMUA perbedaan ini?
Kalau Dia mau, Dia bisa saja menjadikan semua manusia 'serupa' dalam segala hal.
Lalu, kenapa kita lancang menentang Tuhan dengan meludahi perbedaan?
Aku sendiri tidak pernah mengunfriend yang beda pandangan, aku dan kamu bisa bersahabat walaupun kita tidak sepakat.
Pernah lihat orang yang penuh permusuhan hidupnya tenang?
Bagaimana kita berharap ada bunga yang tumbuh di atas kawah berapi?
Yang dirahmati Tuhan adalah hubungan, bukan permusuhan.
Unity in diversity.
Yang aku heran, apa-apa dijadikan perdebatan.
Seperti ritual medsos tahunan, mulai dari ucapan natal, perayaan valentine, bahkan juga jumlah peserta unjuk rasa!
Diri ini merasa lebih baik karena pihak lain terlihat lebih buruk.
Kita merasa senang atas ketidakbaikan orang.
Tuhan mana yang mendukung karakter seperti itu?
Padahal, this too shall pass.
Semua hal pasti akan berlalu sendiri silih berganti.
10 tahun lagi, apakah yang kita pertengkarkan ini lebih berharga daripada hubungan baik kita?
Padahal, kata "musuh" hanyalah ilusi, sebuah sekat yang kita buat sendiri.
Tuhan tidak mengatakan bahwa Ia hanya dekat dengan pembuluh nadi orang beragama X dan bersuku Y, Tuhan dekat dengan pembuluh nadi semua orang.
Sudah lupa, ya?
Yang aneh adalah, jika tidak pro pokoknya salah! Kontra salah, netral pun juga disalahkan.
Tidak ada hal lain yang ditunjukkan kecuali sifat kekanak-kanakan.
Boikot terhadap produk perusahaan raksasa tidak akan berpengaruh sedikitpun pada owner-owner atas yang sudah kaya raya, yang kalian bahayakan adalah penjual-penjual kecil yang masih bingung cari makan tiap harinya, yang mereka bahkan tidak tahu apa-apa tentang kebijakan perusahaan.
Ada sebuah peribahasa Cina yang layak untuk kita renungkan. "Menyimpan dendam seperti meminum racun tapi berharap orang lain yang mati."
Buddha pun berkata, "Anda tidak dihukum KARENA kemarahan Anda, Anda dihukum OLEH kemarahan Anda."
Jika tetap tidak bisa mengendalikan kemarahan? DIAM!
Setidaknya kemarahan kita tidak akan menjadi sebab kemarahan orang lain.
“Barangsiapa yang diam, dia selamat.” (HR. Tirmidzi no. 2501)
Dan aku tahu,
Memang ada saatnya memproteksi diri. Ada saatnya mempertahankan kenyamanan pribadi.
Tapi bagiku, ada juga saatnya untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi. Karena itu, aku tidak akan pergi dari sini :)
- Afi N.F
Afi Nihaya Faridisa
Afi Nihaya Faradisa, tulisan siswi SMA ini jadi viral dan bikin kaget banyak orang. Pemikiran yang brilian tercipta dari seorang anak SMA. (FACEBOOK)
Itulah tulisan Afi yang sempat menjadi viral. Banyak komentar positif tang dilontarkan oleh netizen, berikut beberapa komentar yang kami himpun.
Ezra Eko Febriyanto Afi Nihaya Faradisa bikin malu. Bikin malu yang baca. Bikin malu yang melihat cara berpikirnya Afi.
Muhammad Syaeful Akbar Ini jawaban yang dicari selama ini .. Hebat kk nya 
Ida Koswara Kamu anak cerdas yg sholehah. Teruslah seperti itu. Menjadi sholehah yg cerdas. Supaya makin byk bisa membawa remaja lainya mengikuti kecerdasan mu yg tetap sholehah. Maafkan keadaan negri ini yg telah menyusahkan masa remajamu dgn kejahatan media sosial. Percayalah dgn kecerdasan maka doktrin negative tak akan membuat anak baik baik sepertimu dan remaja lainya termakan fitnah dan isu negatif

Afi Nihaya Faridisa

Dicky Firmansyah Wah aku jadi merinding nih
Muhammad Abduh Ini anak kok bisa buat kata se"berat" itu yang belum menjadi kemampuan sepenuhnya yg dimiliki anak seusianya ya?
Sakral kata2 yang super sekali, tpi tidak kah anda berpikir semua itu di kembalikan pada opang ny msing2